Ibunda
Cari Berita

Ibunda

22 April 2017



Pramoedya Ananta Toer

Saya belajar dari Maxim Gorki yang betul-betul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangnya sehingga semuanya berubah dan bergerak”

Demikianlah apa yang di tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Mutiara (1995) untuk seorang penulis karya sastra hebat asal Rusia, Maxim Gorki. Hal ini sangatlah masuk akal, cerita Pram pasca pernikahannya dengan Maemunah Tahmrin pada tahun 1955 membuatnya begitu mengagumi Gorki.
Pada waktu itu Pram yang henda menikah tidak memiliki uang sama sekali ia di bantu sahabat-sahabatnya menghadap ke penghulu. Sebuah novel berjudul Mother di terimanya dari A. S. Darta bersama uang sebanyak 7000, sungguh jumlah yang sangat besar pada waktu itu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari yang masih menumpang di rumah mertua.

Latar belakang inilah yang kemudian membuat Pram cukup menekuni kerjanya menerjemahkan novel terebut ke dalam bahasa Indonesia. Dari berbagai varian bahasa yang hendak dipakainya sebagai sumber, Pram lebih memilih novel Mother berbahasa Belanda ketimbang yang berbahasa Inggris. Pertimbangannya pada waktu itu adalah edisi bahasa Inggris selalu mengadakan revisi setiap tahun terbitnya, sementara yang berbahasa Belanda tetap seperti karya asli Maxim Gorki atau dengan kata lain masih memiliki aura yang sangat kuat dari seorang Maxim melalui karyanya menentang Feodal pada jaman itu.

Pemimpin Redaksi marjinnews.com