Teologi dan Pembebasan

Yoseph Stenly Agung Jemparut
Dalam kelas tanpa atau atas cahaya Ilahi aku merenung dan berpikir, Semoga bukan karena dorongan nafsu untuk membuktikan kebenaran sang Aku, tapi dengan penuh kerendahan mengungkapkan kebenaran Sang Ilahi, dan semoga Tuhan mengampuni segala kekeliruan pikiran seorang manusia fana ini.

Perdebatan di sebuah teras pagi ini timbul  karena  prinsip yang mengarah pada konsepsi  umum yang coba didalami makna dan keterlibatannya dalam tataran hidup masyarakat yang terhimpit kemiskinan di Flores. Peramasalahan yang diperdebatan adalah bagaimana teologi bisa membangun peradaban yang sempurna dalam kehidupan masyarakat Flores?.

Berawal dari realitas kehidupan masyarakat yang terhimpit “kemiskinan” dan kelihatan menderita di tengah kearifan yang berusaha dipertahankan dari standar miskin dan kaya secara statistik yang didasarkan pada kualifikasi lembaga internasional. Teologi agama mayoritas  dipertanyakan keakuratannya dalam menerjemahkan bahasa Tuhan yang seharusnya “membebaskan”. Muncullah berbagai paham di antara kaum cendekiawan yang tentunya menginginkan perubahan dalam masyarakat karena rasa cinta dan hormat yang begitu mendalam pada tanahnya bahwa teologi penderitaan ala Kristiani sepertinya menjadi salah satu latar belakang  terhambatnya kemajuan masyarakat dalam bidang ekonomi. Hal ini didasarkan atas perbandingan dengan teologi kesejahteraan Gereja reformasi yang dipercaya mendorong masyarakat untuk membangun kekuatan ekonomi dan terlepas dari kemiskinan.

Di lain pihak teologi pembebasan Amerika Latin dijadikan salah satu patokan dari tuntutan bahwa Gereja Katolik Flores harus mengubah cara pandang teologinya agar umat mampu mendobrak kemiskinan dan situasi yang menunjukan ketertindasan umat? Namun sebelum melangkah lebih jauh alangkah baiknya bila kita melihat posisi dan wewenang teologi dalam pergerakan Gereja Katolik universal.

Kata teologi berasal dari dua suku kata yaitu theos dan logos. Secara harafiah kata theos dapat diartikan  sebagai Tuhan dan logos berarti pengetahuan. Karena konsepsi theo diolah oleh logos maka muncul kesadaran bahwa ada keterbatasan dari logos sendiri untuk memahami theos secara penuh. Namun dalam keterbatasannya, sebagai ilmu teologi merupakan refleksi iman yang kritis dan sistematis dalam realitas hidup mendunia. 

Teologi muncul bukan semata-mata untuk menjawab problematika zaman, seperti ekonomi, politik, dan budaya tetapi untuk mulai megkritisi keadaan dunia itu sendiri dalam menjawab wahyu Ilahi. Dalam hal ini teologi tidak menyodorkan jawaban mentah atau langkah praktis untuk menjadi kaya dan terbebas dari “kemiskinan” tetapi menyentak manusia beriman untuk mempertanggungjawabkan keyakinannya secara sadar. Teologi Kristiani selalu mendasarkan ajaran pada tradisi suci dan kitab suci, terlebih kusus melalui penderitaan dan pengorbanan kristus yang diharapakan menjadi dasar kesadaran umat untuk memaknai kebebasan secara mendalam dan utuh. Lalu pertanyaannya untuk apa  memahami pembebasan yang ditawari teologi Kristiani ? Maka jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan seperti ini adalah untuk apa menjadi Kristiani?.

Menganai teologi pembebasan, bahwa memang harus diakui  teologi ini muncul dan menjadi primadona di Amerika Latin dan negara dunia ke–III (tidak semua) adalah benar. Bahwa pencerahan yang dibawa oleh teologi ini memberikan harapan baru bagi kaum yang “tertindas” dan “menderita” adalah benar. Namun kita perlu melihat bahwa konteks teologi pembebasan Amerika Latin tidak bisa diadopsi secara murni  ke dalam konteks masyarakat di Flores. Keadaan masyarakat Amerika Latin yang mengalami tekanan yang dilakukan oleh para penguasa dan para pemodal yang juga Katolik terhadap rakyat tidak bisa dijadikan kebenaran universal. Di sini penderitaan lebih dilihat dari prespektif oknum dan korban, dimana oknum adalah para penindas dan korban adalah mereka yang tertindas. Kebrutalan penguasa dan kapitalis yang semakin menjadi- jadi mengantar pada suatu pemahaman bahwa “penderitaan”  memang tidak akan pernah berhenti jika masyarakat hanya diam dan menerima hal ini apa adanya, dan menjadikannya refleksi iman sebagai pelarian dari kehendak untuk berani melawan. Gereja Amerika Latin sebagai otoritas yang mayoritas melihat hal ini sebagai tantangan yang harus diatasi maka munculah teologi pembebasan.

Tawaran dari Gereja Amerika Latin (hasil gagasan beberapa teolog lokal) adalah bahwa rakyat harus  disadarkan dan menyadarkan dirinya sendiri agar berani keluar dari ketertindasan itu. Dengan mengguanakan pendekatan neo Marxis. Geraja Katolik Amerika Latin sulit menerima dan memahami ajaran teologi Gereja Katolik yang menurut para teolog AL terlalu transendental dan sulit dijadikan bahasa kontekstual gerja Katolik universal.

Pandangan teologi pembebasan ala AL tantang “pembebasan” . Para teolog AL memulai pandangan teologisnya dari situasi kedoasaan yang menyebabkan adanya kaum tertindas dan kaum penindas, yang pada ujungnya mengarah pada aksi keberpihakan Gereja kepada kaum tertindas. Pemahaman pembebasan oleh Gereja Katolik universal yang bila mengacu  pada  ajaran Agustinus  dan Thomas Aquinas tidak jauh berbeda dalam arti bahwa ke dua pemikir Gereja ini sama- sama mengakui bahwa situasi kedosaan menjadi pangkal dari ketertindasan manusia. Namun dalam pengembangan selanjutnya, situasi kedosaan teologi Amerika Latin  mengarah pada subyektifitas keberpihakan, sementara Gereja Katolik mempertahankan obyektivitas Skolastik dan Agustinus.

Agustinus dalam bukunya de civitate dei menuliskan bahwa ratio insani dapat mengenal kebenaran- kebenaran abadi karena ratio ilahi tinggal di dalam batin manusia, dan  rasio ilahi itulah yang menerangi ratio insani. Namun Agustinus juga mengakui bahwa meskipun semua manusia menghasratkan kebaikan namun justru malah kejahatan yang dilakukan, hal ini bukan salah kebaikan dalam diri manusia namun terjadi akibat ketidaktauan pelakunya.

Pandangan Agustinus mau menjelaskan bahwa, situasi kedosaan sebagai pangkal penindasan berawal dari ketidaktahuan dan kebutaan akan perpaduan antara iman dan ratio (akal budi) bukan karena kehendak sejarah. Maka teologi Gereja Katolik, justru menjadi refleksi kritis terhadap sejarah, peradaban, dan yang paling utama adalah pemahaman akan keilahian pribadi manusia, sehingga tidak terjebak realitas kedosaan yang mengarah pada garis pemisah antara si penindas dan tertindas. Teologi Gereja Roma dalam kasus ini, tetap menganggap yang tertindas adalah korban penindas tetapi memperjelas bahwa penindas dan yang tertindas sama-sama mejadi korban dari dosa itu sendiri. Maka tuduhan teologi pembebasan terhadap teologi dasar Kristiani sulit mendapat tempat dalam pergerkan Gereja universal.

Teologi Kristiani pada akhirnya membantu setiap orang beriman untuk menemukan jalan pembebasannya, dan ketika jalan ini berhasil dia temukan maka akan ada gairah hidup untuk bertindak. Singkatnya semua realitas yang dibicarakan dalam teologi Kristiani yang berpusat pada yesus membantu setiap orang untuk lebih mampu bertahan dalam penderitaan sebagai realitas hidup yang tak terbantahkan namun tetap terus melangkah maju dengan penuh semangat memanfaatkan semua sarana kehidupan seperti ekonomi, politik, dan budaya untuk mencapai pada kemuliaan Ilahi.
Mungkin hal ini dianggap terlalu ideal, tidak menyentuh persoalan dan mengarah pada filsafat tertentu. Tapi sebagai mana saya ingin menjelaskan konsepsi Kristiani maka inilah kesadaran saya akan semua realitas puncak iman Kristiani. Yang menjadi konsepsi dasar atara filsafat dan teologi adalah bahwa filsafat harus mengabdi pada teologi (ancilla theologie, Agustinus civitate dei), bahwa filasat harus dijadikan alat ratio untuk memahami kehendak Ilahi bukan untuk membandingkan kehendak Ilahi dengan dirinya sendiri.

Kembali pada persoalan utama mengenai Flores, mayoritas penduduk beridentitas Katolik, dan ditempeli lebel wilayah terbelakang, termiskin, terkorup, dan termelarat. Lantas kita langsung menggugat teologi sebagai penghambat kemajuan?, apakah ini tidak dianggap terlalu cepat dan terlalu na’if?. Apa memang teologi harus dipkasa menyelesaikan dan mengatasi masalah seperti ini?. Kalau memang teologi adalah dasar dari terhambatnya kemajuan, bagaimana dengan etnis Tionghoa yang mayoritas Katolik, dan tentunya menerima pangajaran teologi yang sama bisa terbebas dari belenggu kemiskinan? Atau haruskah kita menyatakan bahwa fakta ini adalah bentuk ketidakadilan teologi? Ini hanyalah permasalahan yang menguak ke permukaan, bagaimana dengan perselingkuhan, pembunuhan, seks bebas, pesta pora yang menghabiskan banyak dana, mabuk-mabukan , hal buruk lainnya yang menjadi permasalahan yang sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat Flores, di samping ketaatan buta pada agama dan tradisi?.

Jika kita berkutit pada kata siapa yang salah, maka secara tidak sadar kita malah terjebak  dalam lingkaran setan dan pada akhirnya kita hanya selalu mencari kambing hitam sebagai panyebab cacatnya sistem ideal dalam benak kita.

Dengan adanya permasalahan diatas, maka timbul pertanyaan reflektif dan mendasar, apakah pemikiran ideal teologi sudah diterima secara utuh, mendalam dan berhasil mencerahkan semua umat? Apakah kekristenan itu benar- benar disadari? Atau sekedar bangunan mewah dan indah yang takkan pernah dimiliki? Boleh dilihat tapi jangan disentuh? Atau malah membuktikan bahwa teologi yang ditawarkan hanya sekedar tataran pengetahuan belaka? Benarkah orang- orang Flores adalah orang- orang yang Katolik? Inilah pertanyaan teologis.

Harus diakui bahwa Gereja di Flores adalah bangsawan tanpa gelar, dan penguasa tanpa  nama. Meskipun demikian, kekuatannya begitu disegani lantaran dihuni kaum berintelektual yang bejubah putih dan memikul tanggungjawab Ilahi. Kekeristenan yang berawal di Timur Tengah dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan Romawi, dibawa oleh para penjajah Portugis dan Belanda ke daratan Flores, dan diterima dengan sukarela oleh masyarakat. Gereja, lembaga pendidikan modern berupa seminari dan sekolah-sekolah Katolik pun didirikan, banyak orang dibaptis entah karena kesadaran atau keterpaksaan karena terjebak indahnya bangunan bergaya Eropa, ratusan biarapun didirikan, dan pulau Flores dibaptis menjadi tanah milik Gereja.

Namun seiring menguatnya posisi Gereja Katolik di Flores, secara perlahan tapi pasti budaya lokal mulai tersingkir, kehidupan masyarakat semi modern mulai tertata, banyak orang yang bisa membaca dan menulis, dan bahkan di kemudian hari menjadi salah satu pusat pelajaran filsafat yang disegani di seantero Nusantara. Akulturasi budaya tidak berjalan dengan sempurna, iman dan adab yang diterima sepenuhnya iman dan adab bangsa Eropa. Budaya asli tidak lebih dari cerita rakyat dan ritual adat yang hanya bisa dimaknai oleh para tetua bijak di pelosok-pelosok kampung. Bahasa asli yang kaya akan nilai keluhuran banyak yang terlupakan. 

Gereja secara institusi mulai lupa diri, terlena dengan kedudukannya sebagai bangsawan yang disegani. Maka cukup sulit untuk menjadikan spiritualitas Kristiani sebagai bahasa yang hidup dan menjiwai pergerakan lantaran kehendak mencari identitas diri lebih besar daripada kehendak untuk menggali nilai- nilai budaya Kristiani dalam akar- akar kebudayaan pribumi. Pengeatahuan dijadikan alat untuk memperlancar retorika demi mewujudkan obsesi kekuasaan. Maka tidak heran korupsi terjadi dimana-mana. Iman hanya dijadikan lebel, dan bukannya bahan permenungan untuk mecapai makna yang terdalam dari ajaran teologi, dan yang paling parah bahwa agama secara perlahan dijadikan tempat pelarian dari masalah hidup.Saat ini faktanya tidak sedikit orang Katolik berpindah keyakinan lantaran merasa terbebani  oleh Gereja Katolik senidiri.

Para penjabat sebagai elite- elite yang didengarkan dan disegani plus kaum intelektual yaitu para mahasiswa terjebak dalam retorika dan prilaku elitis. Mereka semua lupa bahwa mereka memiliki kewajiban sebagai kaum tercerahkan untuk menjelaskan teologi Kristiani kepada mereka yang belum tercerahkan. Atau saya keliru?, para pejabat dan mahasiswa sendiripun hanyalah manusia- manusia goa yang sudah ditata oleh sistem termakan oleh indahnya bayangannya sendiri, terlena oleh kehormatan dan secara perlahan lupa siapa dirinya . Maka tidak perlu heran generasi yang dihasilakan adalah generasi NATO (not action tolk only) istilah  seorang trainer Kristiani asal Sulawesi.

Pada Tahun 2010 STFK Ledalero menerbitkan begitu banyak buku tentang teologi Kristiani. Salah satu buku yang cukup popular berjudul Allah Menggugat. Dalam buku ini diangkatlah kisah-kisah dari kebudayaan lokal Flores, yang di dominasi oleh kisah penuh pengorbanan dan keberanian untuk mejawab tantangan hidup. Kisah- kisah ini kemudian didekati dengan konsep teologi Kristiani sehingga menghasilkan perpaduan yang indah antara nilai–nilai budaya dan teologi Kristiani. Disini dapat kita lihat usaha teologi untuk mulai mengangkat kearifan lokal meskipun dibayangi ketidakpastian akan pengaruhnya pada masyarakat. Kalau kita mengacu pada teologi pembebasan maka dapat dilihat bahwa apa yang diusahakan oleh teolog-teolog Katolik Ledalero ini adalah gebrakan baru, namun masih memiliki batasan-batasan tertentu karena kondisi sosial politik yang cenderung stabil.

Pada akhirnya kemiskinan dan penindasan hanya bisa dihadapi oleh masyarakat itu sendiri, bukan oleh teologi. Sekali  teologi memberikan jawaban prosedural maka teologi akan kehilangan daya kritis dan daya Ilahinya. Maka sebelum kita menuduh teologi sebaiknya jadikan teologi itu sebagai bahan permenungan bukan perdebatan dalam seni retorika.

Saya percaya teologi Kristiani bahkan sanggup membebaskan orang dari kemelaratan dan kemiskinan “dunia” apabila manusia- manusia Flores yang memiliki daya intelektual tinggi meninggalkan kursi elitisnya, dan para penyabung lidah Allah yang memahami teologi Kristiani dan meperoleh pencerahan berani membawa darah dan tubuh pengorbanan yesus keluar dari piala perak dan altar beton
                     “Carilah dulu kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”


Oleh : Yoseph Stenly Agung Jemparut
Ketua Presidium PMKRI Cabang Surabaya-Sanctus Lucas



COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,146,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,539,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1032,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Teologi dan Pembebasan
Teologi dan Pembebasan
https://2.bp.blogspot.com/-dy66n-6ZOhs/WMt5Z16is0I/AAAAAAAAANI/7plhywN2QA008eBcNxuI9bBF24nYwtLYACLcB/s400/steniiiiiiiiii.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-dy66n-6ZOhs/WMt5Z16is0I/AAAAAAAAANI/7plhywN2QA008eBcNxuI9bBF24nYwtLYACLcB/s72-c/steniiiiiiiiii.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/03/teologi-dan-pembebasan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/03/teologi-dan-pembebasan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy