Surat Cinta dari Aktivis


Matahari sudah semakin meninggi, riuh rendah suara kendaraan berlalu lalang memecah gandang telinga. Tukang soto dan bakso hilir mudik sambari memukul mangkuk bargambar ayam jago dengan keras. Di salah satu pojok ruang bangunan tua itu tampak seekor anjing terkena penyakit tidur meringkuk menahan dingin diatas kursi berwarna biru. Kliping-kliping Koran dan potongan kertas hasil diskusi bertumpuk disamping asbak kotor menjijikan penuh abu dan punting rokok.

“Kita akan melakukan aksi hari ini, harap semua delegasi segera merapat dan media-media harus segera dihubungi” perintah seorang pemuda berbadan tegap ditengah-tengah segerombolan orang yang melingkari meja panjang nan usang tepat ditengah-tengah ruangan bercat putih selepas di perbaiki.

Pemuda itu seorang aktivis muda, matanya sayu,  lingkaran hitam tampak menghias disekitar matanya. Semalam mereka sudah membahas dan mendiskusikan kasus tambang batu kapur yang berpotensi merusak lingkungan di daerah Jawa Tengah. 
“Apakah kita boleh istirahat barang sebentar bung, tubuh kita tidak terlalu fit dalam melakukan aksi hari ini” sanggah seorang peserta diskusi.
“Ini kasus besar, apa kita hanya berdiam diri dan masih mengaku aktivis ketika melihat saudara kita tersiksa untuk sebuah keadilan dan perdamaian? Kita harus keluar dari zona nyaman ini, apa kata orang-orang melihat ekspresi kita macam ini?  Sudahlah lawan keinginan daging ini, kita harus tetap melakukan aksi”.  Jawabnya lantang disambut anggukan semua peserta yang hadir.

Setelah semuanya lengkap dan tidak ada lagi yang mau dibicarakan mereka lalu bubar dan mempersiapkan diri. Dengan cekatan segala sesuatunya muncul begitu saja, spanduk berukuran besar dan kertas-kertas hasil print out menyebar kesetiap kantong celana mereka. 

Lagi-lagi Pemuda berbadan tegap itu tampak duduk terpaku di salah satu kursi pendapa depan, matanya menerawang jauh. Entah apa yang sedang ia pikirkan,  kopi hitam yang adalah kesukaannya mengeluarkan bau kafein menusuk hidung. Sesekali ia menghisap rokok ditangan kanannya sangat dalam, asap pun membubung menutupi sebagian wajahnya.

Setelah sekian lama duduk terpaku ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam saku celananya. Meski benda itu kecil tetapi dapat dilihat dengan jelas bahwa benda tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga untuknya. Sesaat pandangannya terpaku pada benda itu, ia sama sekali tidak terusik dengan tingkah sobatnya yang menyerumput kopi hitam dari gelas didepan wajahnya.
“Apa engkau dalam masalah?” Tanya sobatnya sambil membakar punting rokok sisa hisapan semalam.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Apa semuanya sudah siap?” jawabnya singkat.
“Sudah bung, tinggal menunggu komando”.
“Bagus, usahakan sebelum jam Sembilan kita sudah berkumpul dengan elemen lain di Balai Kota”
“O iya, saya melihat bahwa hari ini ibu Negara ulang tahun. Apa bung tidak berencana mengajaknya kemari untuk merayakannya disini?”
“Sudahlah, itu tidak penting. Saya hanya bisa merayakan hari jadinya dengan doa. Kegiatan aksi ini sepertinya berakhir sampai larut malam. Saya tidak memiliki waktu untuknya”

“Ayolah bung. Saya yakin teman-teman yang lain akan mengerti dengan keadaanmu saat ini.”
“Ini berbicara tentang tanggung jawab bung. Saya berpikir dia juga mengerti dengan kondisiku saat ini. Aku tahu dia dan aku mempercayainya.”

Percakapan itu berakhir, pemuda berbadan tegap itu tetap konsisten dengan pendiriannya.
Waktu terus berlalu, dengan berat hati ia mengambil sepucuk surat yang masih putih bersih dan mulai menulis dengan cepat dan hati-hati. Ia mencoba memilih beberapa kata yang tepat untuk memulai isi suratnya.  

Dear Gratia

Aku tidak tahu bagaimana harus mengawali surat ini. Aku merasa bersalah ketika memberitahukan ini kepadamu. Aku mau mengucapkan permohanan maaf yang sebesar-besarnya kapadamu, orang  yang selalu ada dalam setiap langkahku, menerangi jalanku ketika aku lupa dan tidak tahu kemana hendak melangkah, orang yang selalu menjadi sandaran ketika raga dan hatiku tidak bisa lagi berpikir jernih.

 Ah, aku bukan orang yang suka dengan kata-kata puitis dan indah itu karena hanya engkau yang bisa merangkainya. Engkau sendiri tahu terakhir kali aku menulis surat itu ketika tiga tahun lalu, waktu kita masih lugu di bangku SMA, kini semuanya berbeda jari-jariku lebih lincah memencet tombol ketimbang menulis dengan pena. Bukannya sombong, tetapi begitulah keadaannya.

Pada Hari ini, hari dimana engkau mendapat sebuah anugerah besar dari Tuhan untuk usiamu yang bertambah satu, aku menjadi pecundang dimatamu, mementingkan diri sendiri tanpa tahu berbalas budi akan apa yang selalu memotivasiku setiap saat. Ya… aku sadar dan aku meminta maaf akan kesalahan besar ini. Tetapi, meski engkau tahu tepat ketika lonceng Gereja berbunyi dua belas kali  aku mengirimkan VN melalui BBM dan WA berupa sebuah lagu dengan suara sumbang ternyata masih belum cukup bagiku untuk menghargai setiap segala sesuatu yang telah engkau berikan selama ini.

Sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan ini untukmu, seuntai kata dari seorang aktivis badung yang egois sepertiku. Coretan-coretan tidak bermakna ini mungkin menjadi sebuah penghinaan kepadamu. Tetapi jujur, ini adalah suara hatiku terdalam, suaraku yang sebenarnya mendambakan sebuah pertemuan luar biasa seperti apa yang kita impikan, maka biarkan aku berkata: Aku mencintaimu lebih dari yang engkau tahu, aku menyayangimu lebih dari apa yang mereka katakana kepadamu, meski aku tampak seperti lelaki pecundang dimatamu tetapi aku tetap berdoa, semoga di hari ulang tahunmu ini engkau semakin dewasa dalam berpikir dan tetap menjadi yang terbaik untuk keluarga dan tetap menerima aku yang begini adanya.

Happy birthday, god bless you

Ia menghela napas panjang, sekali lagi ia mengisap rokoknya sangat dalam, raut wajahnya menunjukkan betapa ia sangat gelisah dan memikirkan bagaimana reaksi kekasihnya membaca surat itu. Tetapi apa mau dikata, dinamika tetaplah dinamika, meski kadang realita dan cinta harus dikorbankan.

Waktu terus berlalu, teriakan dan orasi kemanusiaan menggelegar memenuhi kolong langit, orang-orang berseragam membentuk pagar betis rapat menyaksikan bagaimana kawula muda bersuara tanpa kekerasan. Perdamaian dan keadilan tetap menjadi suatu hal yang diprioritaskan. Meski kadang dari barisan itu nantinya muncul wajah-wajah baru dalam daftar pemakan uang rakyat yang sebelumnya mereka suarakan dengan semangat yang berkoar-koar.

“Dalam kegelisahan yang mendalam ini, aku sebenarnya selalu mendabakan kehadiranmu disampingku. Melihat mereka yang berpasangan dan bergandengan tangan aku ingin menangis. Ingin aku berteriak kepada bumi, betapa aku sangat mendambakan hal-hal seperti itu. Tetapi satu hal yang membuatku merasa tenang, engkau setidaknya masih mengingatku dan mau berkata jujur bahwa engkau menghargai keberadaanku. Terima kasih atas kado spesialnya terutama tulisan tanganmu yang sulit untukku baca sampai sekarang ini, engkau ternyata tidak berbeda dari dulu sampai sekarang. I love you, lakukan segalanya untukku maka aku akan selalu mendukungmu”.

Ia menutup ponselnya dengan seuntai senyuman menghiasi wajahnya. “Aku menamai ini: Seuntai kata dari sang aktivis”.

Surabaya, 28 Maret 2017

Oleh: Andy Andur
Pemimpin Redaksi marjinnews.com


COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Surat Cinta dari Aktivis
Surat Cinta dari Aktivis
https://4.bp.blogspot.com/-uRNUilyHt_g/WNodjfwKGBI/AAAAAAAAAPA/yow1jUo61zQwNeqVzANCkkfhq-ANB6G6gCLcB/s400/U.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-uRNUilyHt_g/WNodjfwKGBI/AAAAAAAAAPA/yow1jUo61zQwNeqVzANCkkfhq-ANB6G6gCLcB/s72-c/U.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2017/03/surat-cinta-dari-aktivis.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2017/03/surat-cinta-dari-aktivis.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy