Subuh di Ecclesia Cordis Jesu
Cari Berita

Subuh di Ecclesia Cordis Jesu

27 March 2017


Adzan baru saja berkumandang, saudaraku yang seorang Muslim membangunkanku untuk berdoa. Ia membentang sajadah lalu tunduk berdoa dengan khusuk, lantunan bait-bait Alquran menenangkan batinku yang masih enggan untuk bangun. Aku memperhatikannya walau hanya dengan memincing salah satu mata untuk memastikan bahwa dia benar-benar percaya bahwa aku juga sedang berdoa. 

Setelah mengucap kata Amin, dia hening sejenak lalu menyapaku dengan senyumannya yang khas. 
"Kamu tidak ke Gereja lagi hari ini?" tanyanya agak ragu sambil merapikan sajadahnya ke dalam lemari, aku tahu ia sangat hati-hati menanyakannya. Padahal aku yang menyuruhnya untuk selalu mengingatkaku untuk urusan yang satu ini.

"Sudah ada yang nungguin kamu tuh di luar. Katanya mau ajak kamu ke Gereja"
"Jangan bercanda bro, Tuhan aja kayaknya belum bangun pada jam-jam seperti ini"
Dia hanya tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, "Sudah pergi saja, ambil hikmahnya aja dulu. Siapa tahu Tuhan membantu". Ketika dia berlalu, sayup-sayup aku mendengar suara seorang perempuan yang tidakku kenal sama sekali menyapanya manja.
"Selamat pagi mas, udah selesai sholatnya?"
"Ia sudah tadi, kamu samparin deh temanku yang di dalam. Dia Katolik juga kayaknya kalau kamu yang ajak pasti mau dia"
"Serius mas, gak dilarangkan?"
"Ya enggak lah, orang dia teman baik mas. Masa dilarang? Buruan gih, keburu dia tidur lagi"

Sebelum dia masuk aku sudah selesai berkemas dan siap berangkat. 
"Lho udah siap toh?"
"Ia sudah.." jawabku malu-malu.
"Namaku Maria mas, adiknya mas Bagus"
"Maria? luar biasa, nama yang sangat indah"
"Ia mas, itu nama pemberian papa sebelum dia meninggal"
"Ooo, jadi bagaimana nih, kita Gereja mana?" Tanyaku salah tingkah.
"Terserah mas aja, aku sih nurut aja" jawabnya manja.

Aku enggan berkata lebih banyak, menatapnya saja aku tidak sanggup dan entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dan hendak merayakannya besar-besaran. Aku ingin hari ini menjadi hari yang baru dihadapan Tuhan, sebagai hari keberuntunganku karena menemukan sebuah senyum manja, dan tatapan mata indah membelah dunia yang meremukan hati ini. Maria, sesosok nama yang menyusup pembatas-pembatas ruang hati.

Tanpa lupa tersenyum kami berpamitan dan berangkat, dia diam aku pun membisu. Benar kata jamrud pelangi di matamu membuatku butuh waktu kursus untuk berbicara jujur. Diammu membuatku terpaku, sepanjang jalan engkau membiarkan aku lugu seperti seorang bangsat dihadapan musuh. Membiarkan aku jatuh dalam sebuah bayang-bayang akan sebuah ketidakpastian yang aku ciptakan sendiri, mungkin akan lebih baik jika kita segera menapaki keramik klasik Gereja itu.

Riak-riak air selokan mengantar kita ke gerbang Gereja, nyanyian riang burung-burung yang terpatri bersama doa angelus menyambut kita dengan sebuah ketenangan yang tiada tara tandingannya. 
"Kamu mau kan berdoa bareng aku?" Tanyanya tiba-tiba menggandeng lenganku erat. Aku hanya menatap matanya yang berbicara penuh harap, lalu memasang sebuah senyuman untuk kemudian membuatku menganggukan kepala sambil berbisik, "Tuhan sudah menunggu kita dari tadi".

Dia tersenyum riang dan dengan tergesa-gesa menarikku ke sebuah kursi panjang tepat berapa kaki dari altar Gereja. Ia mulai berdoa dan aku melihatnya sambil diam-diam mengaguminya, "Tuhan jika Engkau ingin aku berkata jujur, seumur hidupku aku hanya meminta satu hal dari Mu. Jadikan dia kekasih hatiku".

"Tuhan mengabulkan doa mu mas, aku mau kok" katanya sambil tersenyum. 
Aku menggeleng-geleng kepala tidak percaya, semudah itu Tuhan mengabulkan doaku? 
"Kamu berdoa atau mencoba berkata jujur mas? Tuh lihat jemaat yang lain pada memperhatikan kita semua" Katanya menggoda. Aku baru sadar ternyata perkataanku bukan dilakukan dalam hati tetapi diucap langsung tanpa sadar membuat semua orang mendengarnya.

Mukaku merah dan ingin segera aku beranjak dari tempat dudukku, tetapi anggukan puluhan kepala yang memandang kami membuatku bahagia Hari ini waktu subuh di bawah altar Ecclesia Cordis Jesu aku mendapatkan cintanya atas ijin Tuhan yang ternyata mendengar, melihat dan turut merasakan apa yang aku rasakan. 

Maria, pemberian Tuhan yang adalah hartaku terindah.

Surabaya, 27 Maret 2017
Oleh: Andi Andur