Masyarakat Papua Dari Meramu Menuju Masyarakat Modern
Cari Berita

Masyarakat Papua Dari Meramu Menuju Masyarakat Modern

11 March 2017

Yanuarius Bless

Masyarakat Meramu adalah masyarakat  sederhana alias primitive yang kesehariannya mencari makan di alam karena alam merupakan tempat atau lahan penyedia makan untuk mereka berbeda pula dengan zaman teknokratik saat ini yang semuannya serba instan. 

Dalam masyarakat primitif keseharian mereka adalah berkebun atau berladang mereka suka berpindah dari satu tempat ke tempat lain  atau dengan kata lain  Nomaden. Masyarakat seperti ini dapat kita temukan pada masyarakat Kalimantan, Ambon, Maluku, dan Papua. 

Prof. Dr. Koentjaraningrat lebih suka memakai kata masyarakat yang berkembang di bandingkan dengan penggunaan kata primitif yang secara langsung menimbulkan makna negativ karena kata primitif ini di gunakan oleh bangsa Barat saat datang ke Indonesia yakni dimana mereka berasumsi bahwa kata primitive itu diartikan sebagai manusia liar, manusia iblis, kanibal dll. Dalam hal ini seakan-akan mereka beranggapan bahwa masyarakat yang sempurna dan suci hanyalah masyarakat barat dibandingkan dengan suku lain dalam istilah antropologi  etnosentris.

Peralihan zaman meramu ke zaman pertanian manusia yang sebelumnya nomaden akhirnya menetap saat berkebun karena lahannya sudah mulai habis akibat kepadatan penduduk. Kesemuanya ini sudah mulai dirasakan masyarakat di kota- kota besar dengan kebutuhan serba kompleks. Lahan sudah mulai kurang di tambah lagi dengan membeludaknya pembagunan perumahan, mal, supermarket yang dikuasi kelas kapitalis atau kaum pemodal. 
Kondisi-kondisi seperti ini belum benar-benar dirasakan ditempat lain yang masih mempunyai lahan tanah yang luas seperti daerah di luar pulau jawa.

Ketika zaman pertanian mulai masuk zaman industri manusia kemudian beralih pekerjaan yang tadinnya berhubungan dengan alam sekarang sudah bekerja di dalam rumah atau perusahaan. Sebagian masyarakat sudah tidak lagi menanam di alam tetapi bagaimana mereka memproduksi alam itu menjadi sesuatu yang berguna  seperti mengubah pasir menjadi kaca, dll.

Dari ketiga zaman diatas yakni zaman meramu menuju zaman pertanian dan terakhir pada zaman industri, saya melihat bahwa ini adalah sebuah proses yang harus di lalui oleh setiap masyarakat. Kita tahu bahwa jika tidak menjalani proses dengan baik  dampak yang di timbulkan yakni akan membuat kita kebingungan. Misalkan saja dalam mengoptimalkan uang sebesar  40 juta, lebih menyedihkan adalah orang lebih mementingkan beli motor daripada merubah rumah yang tidak layak menjadi layak.
Contoh masyarakat diatas sudah mulai hidup zaman dimana ada pepatah yang mengatakan, “Intinya ada makan dimeja kita makan habis, orang mulai lupa ada makan malam jadi lupa simpan”. Hal ini tentu menjadikan kita kembali pada kehidupan  zaman meramu bukan lagi zaman modern dimana orang-orang sudah mulai tidak lagi berpikir kedepan, hedon yang sama sekali tidak memberikan feed back.
Pola pikir masyarakat kita harus diubah dengan pembangunan sumber daya manusia. Kuncinya  adalah pendidikan dan kesehatan. Untuk mewujudkan wajah baru Papua, pembagunan sumber daya manusia tidak lepas dari berbagai aspek yakni aspek sosial dan budaya, serta  aspek ekonomi.
 
Seperti syair yang di nyayikan oleh Edo Kondologit berjudul,”SUARA KEMISKINAN” dimana ijinkah saya mengutip liriknya “Tanah kami tanah kaya. Laut kami laut kaya.kami tidur diatas emas. Kami berenang diatas minyak.tapi itu bukan Milik Kami.” Semua kekayaan ini telah memberikan sumbangan dana terbesar kepada Republik Indonesia. Perolehan pajak dari Freeport, British Petroleum Bintuni, Manokwari, minyak di Sorong, perusahan kayu, kelapa sawit di seluruh Papua. 
Semua perusahan-perusahan ini telah lama beroperasi di Papua, tentu kita tidak bisa mengingkari bahwa perusahan-perusahan ini juga tidak memberikan kesempatan bagi pekerja-pekerja  dari masyarakat Papua sejahtera, dalam hal ini semua kekayaan yang dimiliki oleh orang Papua justru tidak membuat mereka menjadi sejahtera, malahan menambah jumlah kemiskinan yang justru menghantui mereka dan kita semua.

Ijinkan saya mengutip buku Lucas Enembe yang berjudul “Papua Antara Uang dan Kewenangan” (halaman186) dengan merujuk data BPS (Badan Pusat Statistik) peran Freeport dalam menyongkong pembangunan di papua hanya 2 persen  hingga kuartal 3.

Penulis melihat ketidakadilan dan ketidakwajaran ketika Freeport mengklaim telah memberikan kontribusi  sebanyak 487 triliun kepada pemerintah pusat, sedangkan dana Otsus  yang di terima oleh Papua tiap tahun hanya sekitar 5 triliun.

Adanya ketidakadilan  dalam pembagunan masyarakat papua sehingga mulai dari perkembangan pendidikan dan kesehatan terburuk di Papua, satu hal yang saya mau katakan adalah ketika pembagunan Sumber Daya Manusia (SDM) Papua tidak di perhatikan dan kesehatan nutrisi bagi orang Papua masih terbengkalai,  maka teori evolusi akan secara berlahan berlaku bahwa akan terjadi kepunahan suku asli Papua yang tentu bukan sesuatu yang kita inginkan bersama.
Sebagai sesama bangsa dan negara yang kita cintai, hanya dengan pembangunan sumber daya sajalah yang dapat membangun orang Papua menjadi sejahtera.

Oleh : Yanuarius Bless
Mahasiswa S1 Antropologi UNAIR, Surabaya