Selamat Hari Valentine Valentina

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Selamat Hari Valentine Valentina

10 February 2017

Gambar Ilustrasi: Google Search
Engkau yang selalu ku puja dalam setiap doaku...
Aku tidak tahu kapan terakhir aku merasakan ini, merasakan sesuatu yang membuatku kembali ke masa lalu. Suatu masa dimana hati ini kembali menjadi cukup berarti untuk dimiliki. Hati yang telah sekian lama dilanda kekosongan layaknya hampa ruang benakku. Hari ini disini, diantara rerintih hujan bulan Februari yang membasahi tanah dan paving halaman berlumuran lumut yang tumbuh malu-malu ketika bersamamu.
Bertahun-tahun yang lalu, ketika suara lonceng gereja terdengar sayup-sayup melalui frekuensi udara lembab memenuhi kota. Engkau tersenyum menyapaku malu-malu. sebagai adik dari sahabat baikku, waktu itu aku menjaga jarak dekat denganmu, Tetapi jujur waktu itu aku terlanjur terjatuh dalam indah sorot matamu. Enggan aku berucap isi hati ini karena aku takut kejujuranku membuatmu merasa tidak nyaman dan menjauh dariku. (10/02/2013)
“Hei apa kabar?”
“Baik. Seperti biasa rutinitas ini membuatku larut dalam keadaan ini” jawabku.
“BTW, bagaimana keadaan keluargmu? sudah sampai dimana?” lanjutku tanpa sedikit pun melihatnya.
“Semuanya baik-baik saja. o ia ada salam dari mas arif. Kapan main ke London?”
“haha..bagaimana keadaan si Arif? Masihkah ia mengejar wanita idamannya itu?”
“Mas Arif baik. ia mendapat promosi study doktoral di Manchester. Kalau kamu apakah masih mengejar wanita idamanmu” tanyanya penuh harap.
Aku berhenti sejenak lalu memandang mata indahnya. Masih seperti dahulu, seluruh keindahan jagat raya ada disana.
“Kamu mau tahu aja apa mau tahu banget?”
“Hahaha, ya kedua-duanya…” jawabnya sambil tersenyum
“Ia sudah terlalu jauh berlari. Mungkin ia ingin selalu dikejar, tetapi ia tidak tahu lelahnya mengejar. Aku hanya takut kalau-kalau ia terlalu asyik berlari sampai dia tidak tahu aku sudah lama berhenti mengejar”.
“Luar biasa, masih seperti Jefri yang aku kenal dulu. Masihkah engkau menunggunya?”
“Menunggu tidak, tetapi berharap ia. Aku sudah lama menyerah tetapi tetap terus berharap semoga ia mengerti dengan apa yang aku rasakan”.
“Kalau ia sudah mengerti dan ingin kembali?”
“Itu mustahil, karena bagaimana pun ia sudah memiliki jalan dan ceritanya sendiri”
“Maukah engkau memafkannya?”
“Untuk apa memafkan orang yang tidak bersalah? sudahlah..apa artinya kalau kita sendiri tidak berani berkata jujur tentang perasaan kita”
“Semoga Tuhan memberkatimu, lalu bagaimana sekarang?”
“Jujur aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama, kesalahan yang membuatku tersiksa sepanjang tahun belakangan karena keegoisanku. Aku sudah mencoba untuk membuka pintu bagi mereka yang sudah lama mendambakan kasih sayang yang sama seperti dia”
“Terima kasih untuk tidak mempersalahkannya, maafkan aku yang berani mencampuri urusanmu.”
Semuanya berakhir sampai disitu, kami hanya diam hingga ia merasa lelah dan berpamit pulang. (12/02/2017)
Untukmu yang membuatku selalu merindu..
Aku bingung harus memulainya dari mana, semuanya terjadi begitu cepat. kebersamaan kita selama ini sepertinya hanya akan diisi dengan hari-hari yang kosong tak berarti. Aku memahami perasaanmu tetapi, aku juga mencintai keluargaku.
Terima kasih untuk segalanya. Canda, tawa, dan tangisku selama ini hanya aku dapat ketika engkau dismpingku. Mungkin ii terlalu berlebihan, aku terlalu egois menyikapi hal-hal kecil seperti yang selalu engkau katakan.
Besok aku ke London bersama tunanganku, melanjutkan study magister dan mungkin akan kembali dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.. maafkan aku sekali ini saja, aku akan sangat merindukan puisi-puisimu, aku akan merindukan fantasi hayalan setinggi langitmu, dan ingat apa yang engkau katakan  saat mengecup keningku malam itu akan selalu aku bawa dalam setiap derap langkahku.
“No matter space and distance make it look so far, cause i believe you still here with me”..
Surabaya, 14/02/2013
Aku menyandarkan badanku di kursi dan merenungkan apa yang telah aku lakukan padanya. Tetapi, mungkin itu belum cukup untuk mengobati rasa sakit ini selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba dalam keheningan handphone berbunyi dan mendapati pesan dari sebuah nomor baru di WhatsApp :” Aku meminta maaf atas segala kesalahanku terhadapmu, anda engkau tahu betapa aku tersiksa selama bertahun-tahun. Aku cemas, aku takut apa yang seperti telah engkau katakan bahwa engkau sudah menyerah untuk menunggu tetapi akan tetap terus berharap membuatku tidak kehilangan harapan. Aku sangat senang dan ijinkan aku untuk membenah diri dan memulianya lagi dari awal. Aku ingin merubah segalanya. Karena aku takut natal kali ini akan seperti natal-natal sebelumnya. Aku juga memiliki perasaan yang sama seperti dirimu, bahkan lebih dari itu.”
Keu dae saranghamnida. 
Happy Valentine Day
Valentina…
Surabaya, 14 Februari 2017
Oleh : Andi Andur