Penuhi Komitmen, Tunjukan Integritas Sebagai Pemimpin
Cari Berita

Penuhi Komitmen, Tunjukan Integritas Sebagai Pemimpin

11 February 2017

Ulrich Pajang Lamsi

Memenuhi komitmen atau janji adalah tabungan yang besar,  melanggar janji adalah penarikan yang besar. Barangkali tidak ada penarikan yang lebih besar dibandingkan dengan membuat janji yang penting bagi masyarakat dan kemudian tidak memenuhinya. Pemimpin cenderung membangun harapan mereka disekitar janji, khususnya janji tentang kesejahtraan umum dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pemimpin yang mengerti dan memahami  kondisi riil  kehidupan masyarakat harus bisa menggunakan filosofi untuk tidak membuat janji yang yang tidak dapat diraih. Oleh karena itu pemimpin harus membuat janji secara hati-hati dan dengan indikator yang jelas untuk pencapaian janji tersebut.

Realitas yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat jika kita mengaitkan dengan konteks konstelasi politik saat ini. Begitu banyak janji yang diumbar ketika masih berkampanye tapi ketika sudah duduk di singgasana kekuasaan maka disanalah mereka menjadi pembohong yang handal dengan dalih untuk kepentingan masyarat umum. Disanalah virus KKN merajalela, topeng  kemunafikan dibuka dan yang lebih sadisnya adalah mereka membawa masyarakat kecil atau dengan bahasa jawa timur khususnya Kota malang yang selalu didengungkan yaitu wong cilik untuk melegalkan perbuatan mereka yang sangat kontradiksi in- actum.

Saya yakin bahwa jika pemimpin kita selalu menepati janjinya maka sebenarnya disanalah mereka sedang membangun jembatan kepercayaan yang merentangi kepercayaan antara pemimpin dengan masyarakatnya. Karena menghilangkan stigmatisasi masyarakat tentang pemimpin yang sebagiannya mengatakan korup atau hanya mengucapkan janji manis itu lumayan susah. Oleh karena itu, ketika pemimpin mampu memenuhi janji serta membangun komunikasi yang intens dengan masyarakat  maka disanalah integritas sebagai seorang pemimpin diperlihatkan.

Integritas pribadi menghasilkan kepercayaan dan merupakan dasar dari tabungan yang besar atau komitmen itu sendiri. Pemimpin yang tidak berintegritas dapat merusak hampir setiap usaha lain untuk menciptakan  rekening kepercayaan yang tinggi. Masyarakat dapat mengerti, memenuhi hal-hal kecil, memenuhi janji mereka ,menjelaskan dan memenuhi harapan, tetapi tetap gagal dalam membangun cadangan kepercayaan jika mereka tidak tulus hati dalam melayani kepentingan masyarakat.

Pemimpin yang berintegritas tidak hanya berbicara soal kejujuran tapi lebih dari itu, karena kejujuran itu berbicara bagaimana pemimpin menyesuaikan kata-kata dengan realitas, sedangkan integritas berbicara bagaimana pemimpin menyesuaikan realitas dengan kata-kata. Dengan kata lain memenuhi janji dan harapan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang berintegritas berarti menghindari komunikasi yang menipu, penuh akal bulus, atau dibawah martabat sebagai manusia.



Konstelasi politik merupakan salah satu wadah untuk mengiklankan diri, seni untuk mempromosikan diri. Kita sebagai masyarakat harus bijak menilai mana pemimpin yang benar-benar realistis dengan kondisi masyarakat bukan pemimpin yang bersifat momentum. Dalam artian bahwa mereka hadir untuk menjadi pemimpin yang seolah-olah bagi masyarakat, sehingga hasilnya juga seolah-olah. Tetapi sebagai masyarakat awam kit harus bisa memilih pemimpin yang memang punya sikap keberpihakan yang jelas terhadap masyarakat yang tertindas atau termarginalkan dari kehidupan sosial akibat dari tindakan korup yang dilakukan oleh birokrasi dan ataupun yang lainnya. Karena pemimpin yang memenuhi komitmen dan memberikan harapan yang pasti, bukan harapan palsu adalah pemimpin yang berintegritas dan pastinya mencintai dan dicintai oleh masyarakat. Oleh karena itu Hati-hati dengan pemimpin yang menutupi wajahnya dengan topeng kebaikan tapi sebenarnya penuh borok dan penuh kemunafikan.

Oleh : Ulrich Pajang Lamsi
Ketua PMKRI Cabang Malang