Benarkah Mahasiswa Identik Dengan Idealisme?

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Benarkah Mahasiswa Identik Dengan Idealisme?

14 February 2017

Rinoldus Padur
Secara historis mahasiswa di Republik Indonesia telah membuktikan bahwa sesungguhnya ketajaman idealisme dari mahasiwa cukup diandalkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Berbagai sumber sejarah telah mencatat bahwa di setiap sendi-sendi kehidupan sosial pada setiap era sangat terlihat jelas peran orang muda didalamnya.

Melalui ketajaman idealismenya orang muda mampu merubah pola kehidupan sosial masyarakat dan hal ini terbukti di masa lampau pada abad 20, di mana masa itu kumpulkan kaum muda yang ingin berjuang melawan kekejaman imperealisme yang masih bersifat kedaerahan, artinya bahwa di kalangan muda Indonesia waktu itu belum bisa merajut sebuah kesatuan yang utuh.

Lalu masuk pada tahun 1928 sekelompok orang muda berkumpul untuk bagaimana kemudian dapat merumuskan sebuah persatuan dan kesatuan di Bumi Nusantara dan hasil dari pada musyawarah bersama itu dapat di kumandangkan pada tangal 28 oktober 1928 dengan menggelar ikrar sumpah pemuda.

“ kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, Kami putra-putri indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia “

Inilah salah satu fakta sejarah yang telah membuktikan ketajaman idealisme dari mahasiswa di Bumi Nusantara.  Ketajaman idealisme mahasiswa kembali mencuat pada tahun 1945,  pada masa itu sedang terjadi pemboman di Nagasaki dan Hirosima yang  kemudian menimbulkan perdebatan yang cukup serius antara golongan tua dengan golongan muda Indonesia. Terutama terkait kemerdekaan Indonesia yang masih belum jelas.
Bung Karno bersama Bung Hatta tetap konsisten dengan hasil musyawarah bersama para penjajah Jepang bahwa bangsa Indonesia akan di merdekakan. Namun kalangan muda tetap berontak untuk kemudian menyerukan agar Founding Fathers ini sesegera mungkin memproklamirkan kemerdekaan yang berujung pada terjadinya penculikan Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 16 agustus 1945 ke Rengasdengklok, dan berhasil terealisasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia ketika roda pemerintahan mulai berjalan yang di pimpin oleh Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama, Indonesia kembali mengalami masalah pada tahun 1966. Konflik yang terjadi dalam negri menuntut mahasiswa untuk kembali tampil di garda terdepan berhasil melakukan revolusi yang berujung pada runtuhnya orde lama.

Tumbangnya rezim orde lama ternyata tidak selalu memberikan solusi untuk menyelesaikan persoalan dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelahnya muncul sosok Soeharto yang memimpin orde baru yang menjadi lahan subur berkembang kegelisahan dan keresahan yang sangat mendalam masyarakat Indonesia.

Kekejaman rejim orde baru yang sangat menindas rakyat Indonesia  kemudian mendesak mahasiswa untuk kembali mengajak nalarnya agar tampil lagi ke permukaan demi menjawab segala keresahan masyarakat tersebut. Perjuangan pun berhasil di laksanakan sehingga pada tahun 1998 tumbanglah rezim orde baru melalui aksi besar-besaran oleh mahasiswa.

Inilah sepenggal sejarah yang telah membuktikan bahwa sesungguhnya ketajaman idealisme dari mahasiswa mampu merubah pola kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
  
Dari beberapa fakta sejarah di atas coba kita menatap dengan mata jernih tanpa lensa untuk melihat kehidupan sosial masyarakat indonesia pada abad ke 21 dan juga ketajaman idealisme mahasiswa dalam menganalisis setiap kondisi sosial masyarakat.                       

Pada abad ke 21 ini mahasiswa sudah di benturkan dengan dinamika demokrasi yang sedang mengalami pasang surut, ketimpangan kebijakan dalam tatanan masyarakat seringkali muncul namun pada titik krisis ini rupanya mahasiswa masih  dininanabobokan dengan dunia hedonisme dan di tekan oleh beban tugas yang sangat menumpuk sehingga kemudian ketajaman dari pada idealisme mahasiswa patut di pertanyakan.

Ada banyak organisisi ekstra kampus yang tentunya dapat mengasah ketajaman idealisme mahasiswa namun rupanya minat mahasiswa pun sangat di ragukan. Pada abad ke 21 ini sikap apatis yang sudah melekat dalam hati dan pikiran mahasiswa mampu menggeserkan fungsi dan peran mahasiswa. Fakta sejarah hanya dijadikan sebagai kenangan para senior di masa lampau namun tidak mampu dilanjutkan oleh setiap generasi.

Inilah yang perlu di refleksikan kembali karena ketika kemudian kita bertanya bagaiamana masa masa depan bangsa maka perlu kita melihat kaum muda masa kini.

"Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, 
berikan aku 10  pemuda maka akan ku guncangkan dunia.
- Soekarno


Oleh: Rinoldus Padur
Kader GMNI Komisariat Universitas Kanjuruhan Malang